Bersamamu rasanya seperti pulang. Dan pulang adalah menuju rumah.
Rumah impian saya yaitu rumah mungil bergaya etnik Jawa Bali. Dengan atap Joglo dan gapura batu. Furnitur jati serta beberapa hiasan batik. Kolam kecil disamping rumah. Tempat tidur berkelambu.
Rumah tidak selalu harus sempurna. Tahap demi tahap akan kita lewati, mulai dari membangun pondasi, memberikan sekat-sekat untuk tiap ruangan, membangun atap. Semua itu adalah proses, dan saya telah memilih untuk melalui proses itu dengan kamu. Menemukan rumah. Menua bersama.
Pada saatnya nanti, atap rumah terkadang bocor diterpa hujan. Beberapa tembok retak, cat mengelupas, ataupun kayu yang meranggas dimakan rayap. Itulah saat kesabaran kita diuji untuk tetap mencintai dan memperbaiki rumah. Lagi-lagi semua itu merupakan proses, bagian dari siklus kehidupan. Tetapi rumah adalah rumah, tempat saya merasa pulang, kepadamu.
I wanna run smash into somebody, and I think that is you…
Kulihat sesosok perempuan berlari jauh hingga menyerupai titik kecil. Ketika kupanggil, dia hanya menoleh. Masih enggan kembali, katanya. Perempuan itu tak perlu mengatakan apa-apa, tapi aku tahu dia sedang mencari sesuatu yang hilang. Dan enggan kembali sebelum embun luruh. Dia menggeleng pelan ketika dari kejauhan kutawari pisang goreng dan teh manis hangat, atau buku kesukaannya. Bahkan kutawarkan dia pelukan. Namun dia hanya mencari, pengunci hati yang biasanya ada menemani. Perempuan dikejauhan itu adalah aku, yang selama ini kalian tahu. Semoga dia cepat kembali, pulang.
Saya tidak pernah punya alasan kenapa saya mencintai kamu, sama ketika saya tidak punya alasan kenapa saya bernapas. Kamu seperti napas, ada tanpa harus dipertanyakan, ada untuk selalu dibutuhkan.
Gloomy City - Episode Senja
“Wish me luck”, she begged. “Take care”, he said. Lalu mengalun lagu Atiek CB berjudul Maafkan sebagai penggalan sebuah perpisahan di Kota Hilang.
Apakah yang bisa diingat dari sebuah senja? Sebuah langit yang berkarat jingga? Terbakar kemerahan? Atau sekelebat kenangan tentang cinta? Semuanya terangkum sempurna di otak kanan. Itulah mengapa fungsi otak kiri menjadi tidak maksimal lagi, terlalu penuh oleh kenangan tentang senja.
Senja di Kota Hilang sangat indah untuk dinikmati, berbeda dengan senja yang terpantul dibalik kaca gedung-gedung pencakar langit di Gloomy City. Beruntunglah orang-orang yang pernah melihat senja berada di Kota Hilang. Melihat sisa-sisa sejarah, sisa kenangan, beradu dengan warna senja dari mulai masih jingga hingga hilang menjadi ungu.
Disatu titik, matahari kadang lelah menyemburatkan senja, semakin banyak manusia yang tak peduli padanya. Semakin banyak manusia yang lebih menyukai malam, karena dapat menyaru dalam gelap, menyembunyikan hasrat. Kecuali manusia itu, seorang yang begitu mencintai senja, membenci malam.
Dia melewatkan waktunya untuk berada dalam gedung kaca, lantai dua puluh lima, cukup tinggi untuk dapat menyaksikan langit Gloomy City dari berupa hamparan kapas hingga kerlip kunang-kunang. Namun waktunya untuk menikmati Gloomy City adalah ketika senja, dimulai pukul lima. Ketika orang-orang berlomba mengejar pulang, dia jusru merasa tenang, dapat menikmati senjanya sendirian.
Diam menikmati sesuatu yang menyaru, seperti hujan gerimis sepintas lalu, kemudian jadi rindu. Langit pucat tanpa warna ungu, angin mulai dingin dan kaku, pasrah menerbangkan debu, yang berangsur seperti peluru. Tali temali berpilin jadi satu, berhadapan dengan kunci yang tak pernah seorangpun tahu, bahkan tak tertulis didalam buku.
Adakah yang dia tunggu selain waktu? Adakah yang dia rindu selain senja berkarat kemerahan kemudian jadi ungu? Adakah yang dia sesalkan selain hujan yang perlahan enggan datang? Dan adakah yang dia impikan selain sebuah hati yang tak lagi meradang?
Dia merindukan gerimis hujan di senja yang perlahan kemerahan. Lalu, apakah langit yang berkarat hingga berwarna jingga meninggalkan satu musim tentang cahaya yang tersaput kebiruan?
Aku tahu rasanya duduk di atas genting rumah, terpekur memandangi langit, sesekali berbisik pelan “pulanglah sayang..”. Berharap ratusan kilometer dari sini dia mendengarnya, lalu mencari sumber suara itu, dan pulang ke pelukanku.
Hanya ada dua pilihan. Mengobrak abrik lemari usang bernama kenangan. Atau menyimpan rapi harapan, di lemari kaca bernama masa depan.
Moodtraveler - Episode Semarang
Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari Semarang adalah banyaknya bangunan tua disini. Sesuai dengan selera saya, vintage. Diawal kunjungan saya ke Semarang, saya mengunjungi kawasan Kota Lama (walaupun sayangnya bukan dengan berjalan kaki), melewati bangunan-bangunan jaman kolonial yang seandainya dirawat dengan baik tentu akan menjadi sebuah kawasan wisata yang cantik. Salah satu bangunan yang menarik adalah Gereja Blenduk yang terkenal sebagai bangunan gereja tertua di tanah Jawa. Bangunan ini awal dibangun tahun 1753 dengan bangunan berbentuk heksagonal. Baru kemudian tahun 1894, rumah panggung ini direnovasi dengan menambahkan dua menara didepan bangunan gereja sehingga menjadi bentuk bangunan yang sekarang. Keunikan Gereja Blenduk ini adalah atapnya yang tidak seperti gereja pada umumnya, tetapi dibangun menyerupai kubah masjid.

Dilain hari, karena kesibukan pekerjaan saya di Semarang, maka saya hanya sempat berjalan kaki disekitar Simpang Lima, mengunjungi Gramedia Book Fair, atau pergi ke Pusat Kursus Bahasa Belanda di Jalan Singosari II No. 12. Disini sedang diadakan pemutaran film “Oorlogswinter” yang menceritakan tentang perang dunia II dari sudut pandang anak-anak.
Hari terakhir, saya berkunjung ke salah satu bangunan tua yang memang dari dulu ingin saya kunjungi yaitu Lawang Sewu.

Bangunan ini awal dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1904, berfungsi sebagai Kantor Kereta Api atau pada waktu itu disebut Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij. Tahun 1916 dilakukan penambahan dibagian belakang bangunan, yang sampai saat ini masih seperti bentuk aslinya.

Dibagian belakang bangunan ini terdapat pohon mangga yang sudah ada dari sejak sebelum bangunan ini berdiri.

Serta aula yang dulu dijadikan tempat berpesta para pejabat pemerintahan Belanda.

Lantai keramik, pintu, kaca jendela, bahkan wastafelnya semua didatangkan dari Belanda.

Tapi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, bangunan ini beralih fungsi menjadi pusat kantor tentara Jepang, bahkan beberapa bagian bangunan dijadikan penjara. Salah satunya adalah ruang bawah tanah yang pada jaman Belanda merupakan tanggul air, kemudian pada jaman Jepang dijadikan penjara bawah tanah.Ruangan bawah tanah ini sangat tidak layak untuk manusia, bahkan jika digunakan sebagai penjara sekalipun.

Sayapun ikut dalam Tour Penjara Bawah Tanah yang diikuti juga oleh dua rekan saya dan seorang guide. Ketinggian air kali ini mencapai betis dikarenakan musim hujan, dan tidak adanya penerangan yang memadai. Bukannya merasa takut, tetapi saya malah merasa sedih ketika menyusuri lorong yang sempit, gelap dan lembab. Perasaan yang hampir sama ketika saya tiba-tiba merasa sedih berada di kompleks keputren Candi Ratu Boko. Maybe because at Lawang Sewu, many souls has tortured with their unfinished business. Tentang kesepian dan kehilangan. Tentang benci yang dibawa sampai mati.
Pintu masuknya kecil, ruangan-ruangan yang pengap dan lembab minim cahaya menjadi tempat penyiksaan dan pembunuhan massal. Ada penjara jongkok dgn tinggi 1 meter yg bag atasnya ditutup oleh teralis besi, tanpa ada cahaya masuk. Jika musim hujan, tinggi air yang masuk dapat mencapai batas leher para tahanan yang dibiarkan jongkok berhari-hari, tanpa makan dan minum. Penjara berdiri adalah penjara dengan luas hanya 1x1 meter yang diisi oleh 5-6 orang, ditutup teralis besi, juga tanpa ada cahaya masuk. Meja pertama digunakan ketika memotong jari, tangan atau kaki para tahanan. Lalu meja kedua digunakan ketika memenggal kepala. Setelah dimutilasi kemudian dipenggal, mayat-mayat ditumpuk di meja ketiga lalu dibuang melalui pintu rahasia. Tak terbayangkan berapa banyak jeritan dan darah pengorbanan para tahanan yang disiksa dan dieksekusi di Lawang Sewu. Dari pintu rahasia ini, mayat-mayat yang sudah terpotong-potong dibiarkan mengalir begitu saja ke sungai kecil dibelakang Lawang Sewu. Tak ada kuburan apalgi nisan, hanya kenangan dan isak tangis dari keluarga yang ditinggalkan. Serta rasa benci yang dibawa sampai mati. Karen sejarah tak bisa menuliskan namanya satu persatu, maka ia sendiri yang akan membisikan namanya. Sebuah nama, beserta kisah pedih yg membawanya ke Lawang Sewu. Ia hanya ingin potongan kepalanya ditemukan, lalu dikuburkan secara layak.

Setelah dari Lawang Sewu, kemudian saya membeli oleh-oleh di Jalan Pandaran yang merupakan pusat segala macam oleh-oleh khas Semarang. Untuk mengisi waktu luang sebelum pulang, saya mengunjungi mall Java Paragon yang merupakan mall terbesar di Semarang. Bagi saya, semua mall sama saja. Besar maupun kecil. Di kota manapun. Makan malam terakhir saya di Semarang adalah di tempat makanan fast food, karena dalam perjalanan ini saya tidak sendiri maka harus toleran juga dengan keinginan orang lain. Tapi sebelum kereta api berangkat dari stasiun Semarang Tawang, saya menyempatkan untuk menikmati kopi di kafeteria stasiun, diiringi musik hujan dan suara rindu yang entah untuk siapa.
Layang-layang itu tak perlu dipegang erat, atau dilepas. Biarkan ia terbang tinggi sejauh ia mau dan mampu. Toh ia pasti kembali ke kamu.
Biarkan layang-layang mencumbui awan, atau bahkan bercinta dengan angin. Toh setelah petualangannya usai, ia pasti pulang ke kamu.
Layang-layang itu tahu, segalanya ada pada kamu. Berpusat di kamu. Yang tak berawal dan tak berakhir.
Persis seperti yang saya mau, patung tembaga Kamajaya-Kamaratih itu kamu taruh di rak buku, disamping buku Mahabharata. Satu-satunya hiasan diruang kerjamu.
Otak adalah bagian tubuh yang paling seksi. Seperti kamu ketika menjelaskan tentang kopi, teori konspirasi atau bahkan endemi ulat bulu. Itu seksi.
Bahkan ketika kamu hanya diam menyimak tentang sejarah candi, teori mood disorder atau tentang pluralisme. Itu juga seksi.
Kita sama-sama tahu sejarah wayang. Dalam diam, kita saling mengerti kenapa dipilih Kamajaya-Kamaratih, dan kenapa diletakkan di samping buku Mahabharata.
You said your cloud is the opening and my rain is the encore. Thunder in our mind orgasm. Fall in Gloomy City.
Open our windows, so we can go anywhere without anyone knows. Because we keep our secret key.



